Kamis, 29 Mei 2014

Kpop Wave

K-pop memang sedang menjadi fenomena Global yang dihadapi masyarakat dunia. K-pop dapat dikatakan sebagai gelombang ke-3 dari serangkaian serangan penetrasi budaya Korea (hallyu wavesetelah sebelumnya melalui sektor industri mobil (KIA dan Hyundai) berlanjut hingga sektor teknologi perangkat elektronik (LG dan Samsung).
Musik pop modern Korea berawal tahun 1992 dimana grup K-Pop laki pada tahun tersebut, Seo Taiji & Boys mulai membuat lagu dengan Genre beberapa campuran aliran musik seperti Rap, Rock, Techno Amerika. Selanjutnya muncullah sebutan grup idola bagi grup yang terdiri dari remaja cewek dan cowok asal Korea yang kita kenal saat ini. K-pop menembus pasar Indonesia sekitar tahun 2000an, dimulai dari kemunculan solo artis seperti Rain dan BoA. Kesuksesan keduanya bisa dikatakan sebagai kunci yang membuka pintu peluang bagi artis –artis K-pop generasi selanjutnya hingga saat ini (yang bermunculan dalam format boyband-girlband dengan koreografi dan musik yang khas.) Fenomena nyata K-pop yang bisa kita lihat adalah kedatangan Super Junior ke Jakarta tanggal 28-30 April 2012 yang lalu menimbulkan kehebohan sekaligus antusiasme luar biasa dari masyarakat Indonesia.
Dibalik kepopuleran Super Junior itu, ada banyak hal yang menginspirasi  untuk diterapkan pada industri hiburan di tanah air. Bukan hanya meniru mentah-mentah soal fashion ,hair cut, dan bahasanya saja. Dalam menapaki puncak kejayaan diperoleh dengan pengorbanan yang menguras keringat bahkan tak jarang air mata.Dalam industri musik Korea, agensi atau manajemen artis di Korea mensinergikan antara kerja keras, totalitas, dan kualitas bagi anak didiknya yang akan debut menjadi artis. Hal-hal tersebut dilakukan melalui:
Pihak Agensi menuntut calon idola agar nilai rapor sekolah tetap bagus dan pelatihan dilakukan dengan ketat dan disiplin. Setelah memenangkan audisi dari kontes menyanyi ataupun model tidak serta merta menjadikan mereka artis. Calon idola baru bisa debut setelah menjalani masa training(pelatihan) dan penggemblengan cukup lama mulai dari 1 tahun hingga 7 tahun. (Sooyoung, Hyoyeon dan Jessica dari SNSD menjalani masa peltihan 7 tahun sebelum debut).
Selama menjalani proses tersebut para trainee hidup dalam sebuah asrama bersama dan berlatih setidaknya 10 jam lebih dalam sehari. Menjalani massa training mereka masuk dalam kelas vocal, dance, dan akting. Meskipun telah menjalani massatraining ,para trainee juga tidak bisa mengetahui dengan pasti waktu yang dibutuhkan untuk bisa memulai debut. Park, manajer Beast di Cube Entertainment menjelaskan,”Saat mendaftar sebagai murid training dengan perusahaan kami, maka murid membuat suatu kesepakatan bahwa mereka harus menuruti sejumlah aturan yang disertai sebuah pernyataan bahwa kami tak bisa menjamin kapan mereka akan debut sebagai seorang penyanyi sesungguhnya.Tak seorangpun tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengakhiri masa latihannya, hal itu sebenarnya tergantung dari mereka sendiri,”(http://lmhloverz.blog.com/2011/05/19/susahnya-menjadi-bintang-di-korea-dan-persaingan-di-sana-2/)
Menurut data perbandingan antara peserta training yang berhasil debut menjadi artis dengan yang keluar di tengah jalan adalah 1:10, apabila 1 peserta bisa debut menjadi artis, 10 orang lainnya keluar dari agensi dengan berbagai pertimbangan seperti ada yang tidak tahan dengan masa training yang berat dan disiplin dan yang memang tidak mengalami perkembangan. Tapi dengan adanya pelatihan yang keras dan disiplin itu, buah yang dipetik memang ranum dari segi vokal, mental, dan tarian, maka eksistensi mereka dalam industri hiburan juga terjaga. Berbeda dengan budaya Indonesia yang serba instan. Dunia hiburan tanah air selalu dipenuhi artis-artis baru yang melejit tetapi mendadak tenggelam karena tidak memiliki jiwa dan kualitasseorang entertainer.
Saat pelatihan mereka masuk dalam kelas vocal, dance, dan acting. Hal ini dilakukan pihak manajemen untuk melebarkan popularitas grupnya ke bidang selain musik. Pihak manajemen merasa yakin sebuah grup akan lebih melambung jika melakukan kegiatan entertainment lain seperti menjadi model iklan, menjadi MC, membintangi drama, atau mengikuti reality show.
Berkat hal di atas, pihak stasiun TV juga diuntungkan karena banyak program TV di Korea yang memperoleh rating tinggi karena menampilkan member boybanddan girlband. Contohnya adalah reality show Wild Bunny yang bercerita mengenai keseharian personil 2pm. Tayangan tersebut selain mendapatkan ratting tinggi juga membuat 2PM menjadi dikenal masyarakat Korea. Selain itu nama Taecyeon 2PMsemakin banyak penggemarnya setelah membintangi drama Dream High. Di Indonesia, para artis sering menggunakan istilah “aji mumpung”, karena saat berada di puncak popularitas mereka berusaha mencoba berekspansi ke bidang lain tanpa memiliki basic yang cukup kuat. Sedangkan para boyband-girlband Korea memang telah diberi bekal pelatihan dan diarahkan untuk tidak hanya menguasai satu bidang saja.
Para boyband-girlband Korea menjalin relasi yang kuat dengan para fansnya. Mereka menyadari bahwa dukungan fans secara langsung maupun melalui media online adalah salah satu kunci kesuksean mereka. Tanpa adanya fans mereka juga tidak akan ada. Oleh karenanya,semua boyband-boygirl di Korea pasti memilikifandom bagi para penggemar setia mereka. Contohnya: Cassiopeia (DBSK), ELF(Super Junior), SONE (SNSD), Shawols buat VIP (BigBang), Blackjack(2NE1), HOTTEST (2PM)dan masih banyak lagi lainnya.
Tidak hanya itu mereka juga menggunakan identitas khas untuk membedakan diri dengan grup idola yang lain, mulai dari  warna balon, banner, lightstick,  dan sebagainya. Miasalnya para ELF dengan warna Blue Saphire, para Cassiopeiadengan warna merah, para VIP dengan bandana putih bertuliskan BIGBANG warna Hitam atau glowstick berupa mahkota berwarna kuning emas, dan sebagainya. Tidak heran apabila stadion tempat konser boyband-boygirl Korea selalu meriah olehkehadiran fans setia dengan balon warna kebanggaan masing-masing. Dengan memiliki relasi yang kuat dengan para fans merupakan “tabungan” untuk menjamin eksistensi mereka.
Dampak K-pop juga menajdi salah satu magnet untuk menarik para turis berwisata ke Korea dan menjadi penuymbang keberhasilan dalam upaya mengglobalkan Korea. Melihat dampak K-pop yang begitu fantastis, Indonesia seharusnya bisa terinspirasi dari Korea Selatan dalam upaya untuk meng-Indonesiakan bukan menjiplak. Langkah awal yang bagus dalam bidang musik sudah kita mulai dari Mega Bintang kita Anggun dan Agnes Monica. Untuk selanjutnya mari kita mulai menebarkan serangan Indonesian Wave!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar